Label

Kamis, 15 Desember 2011

Narakrips: b.o.m

Saat itu sore hari dan aku menyelinap dari pengapnya puri dan kerasnya mereka beradu argumen, ayah dan ibu. Kuputar balik sepeda kesayanganku yang putihnya tak lagi sebersih dulu. Suara gemercak baut-baut di keranjang yang kendur harus mewarnai tiap hempasan kakiku pada pedal. Sedikit mengganggu memang, kadang aku harus menahan malu saat dirinya yang aku suka memboncengkanku. Membawaku ke antah berantah di mana destinasi ditentukan oleh rasa kalut.

***
Sebuah kedai kopi “rakyat” dan memang merakyat mau tidak mau jadi tujuan pelarian yang butuh pemberhentian.  Terlalu sering aku melihatnya. Andai kedai ini bisa bicara mungkin yang pertam ia ucapkan padaku adalah “kamu lagi, kamu lagi.” sambil menggelengkan kepala. Kepala? Sudahlah. Satu meja panjang dengan sekawanan manusia tak terawat duduk ditemani gelas-gelas kopi dan es teh. Segera kudatangi si ibu penjual dan beliau langsung menyahut dengan “carrebian nut anget pake gelas kecil pasti”. Kusambutnya dengan beberapa kali anggukan dan tawa kecil. Kulihat tiga orang wanita yang tak begitu terawat masih menungguku menyusulnya, jadi tak ada waktu untuk menunggu. Ya, mereka adalah sahabat-sahabatku yang kini harus terpisahkan jadwal padat masing-masing pihak.
Tak ubahnya banyak wanita yang suka menggunjing dan shopping, kami juga. Meski tak perlente tapi kami lebih suka mengawali perbincangan dengan hal ringan seperti asmara dan gosip paling hangat tentang lingkungan.  Ya, tertawa terbahak-bahak khas anak desa yang sebenarnya tak kenal malu karena mengenang kebodohan masa lalu. Kusadari tak banyak dari kami yang berubah. Bahkan komposisi perbincangan kami yang seperti tradisi makan ala barat dengan menu pembuka, utama, dan penutup. Kristin yang calon dokter ini menjadi pemberi umpan pada striker-striker muda yang masih sedikit membara semangatnya dengan tema ringan soal bom di kota sebelah. Hanya beberapa kalimat ringan yang sebenarnya mungkin hanya sebagai rasa keprihatinannya pada kejadian. Namun umpan ini tak ubahnya bola salju kecil yang digelindingkan.
Mendengar berita membuncahnya setabung bubuk amunisi atau apapun itu yang sering kita dengar sebagai B.O.M di sarana ritual memang memprihatinkan. Padahal  kalender di dinding sudah hendak ditukar lagi dengan yang baru, kami pikir cara seperti ini sudah usang. Tetap saja masyarakat yang tahunya hanya soal hidup bahagia yang harus jadi korban.
Mart yang ekspresif jadi ingat soal kejadian serupa terjadi beberapa waktu lalu di bagian utara kota ini. Ya, kami semua ingat soal bom dari botol kaca, minyak, dan kain itu menghanguskan sebuah piggy bank raksasa. Hampir semua orang menghujat waktu itu. Mereka pikir kejadian itu serupa dengan tindakan tolol di kota sebelah. Setengah hati kami justru terhibur dengan tindak heroik pelaku. Berita mengutarakan perihal surat kaleng yang ditinggalkan di TKP dan tidak ada korban sama sekali. Aku rasa tidak sedikit yang merasakan kondisi bawah tanah yang panas. Lalu kejadian yang benar-benar serupa dari pihak yang sama terjadi sekitar dua bulan sebelumnya cukup jadi bukti kalau kejadian tahun baru kota ini jelas berbeda dengan kejadian di kota sebelah.
Perbincangan yang cukup seru dengan saling berbaginya kami tentang informasi tambahan yang menguatkan hipotesis kami. Yaaa, meskipun sebenarnya tak ada dari kami yang langsung terjun menjadi aktivis politik seperti mereka. Sebagian dari kami malah lebih memilih concern pada masalah jenis kelamin dan gender. Aku? Aku sudah cukup senang menjadi masyarakat biasa saja yang kuliah, bekerja, dan sesekali jadi pengamat.  Sesekali tersenyum mendengar cerita-cerita ekspresif mereka, sahabat, aku sedang belajar menjadi pendengar yang baik.

***
Hari itu sejenak lupa pada keadaan rumah yang agak panas juga. Tak terasa jam sudah hampir menunjukkan jam sembilan malam. Ada baiknya kukayuh lagi sepedaku pulang. Kadang menejemen waktu perlu agar tak ada friksi antara keluarga dan dunia luar.
Keadaan kota malam hari memang masih agak ramai, tapi cukup menyenangkan di beberapa ruas untuk dinikmati. Sembari berpikir tentang yang sudah aku bagi bersama dengan sahabat. Seperti biasa, setiap cerita harus diberi kesimpulan, hidup juga begitu. Menuju angka duapuluh dari hidupku, aku cukup lelah untuk berteriak tak ada tujuan lagi. Aku percaya soal porsi, posisi kita hidup di masyarakat sudah ditentukan dan semuanya punya perannya masing-masing. Seperti mereka yang jadi aktor heroik pergerakan bawah tanah, atau mereka yang suka berteriak di pinggir jalan depan kantor pemerintah, atau mereka yang lebih suka di perpusatakan menulis essay, atau bahkan yang memilih untuk menjadi biasa bekerja demi sesuap nasi. Toh pada akhirnya kita berjuang untuk hidup masing-masing. Toleransi adalah yang paling penting sekaligus menjadi yang paling sulit dilakukan, pikirku sambil mengangguk sendiri di pinggir jalanan malam.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar