Label

Tampilkan postingan dengan label Curhat Nggerus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhat Nggerus. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 Juni 2013

Curus #10 : Udah! Pokoknya Saya Pengen Jadi Bocah Sampai Besok-Besok!

dari mana ya? sebentar, saya tidak pintar melakukannya dengan sistematis...
---------------------

oya, akhir-akhir ini saya jadi sering ingat soal "kata orang" yang sifatnya "katanya-katanya",

Segelintir orang percaya pada jargon "menua itu pasti, dewasa itu pilihan", atau "i don't wanna grow up". Bisa jadi, itu sebagai penolakan pada problem yang kerap ditemui kaum yang sering kita labeli sebagai "dewasa". Padahal kita sendiri belum selesai dengan perintah "dewasalah" yang deskripsinya masih abstrak, tidak jelas. Kadang orang akan mencibir "udah besar kok masih liat kartun, dewasalah!" Kalau egois saya sih, apa hubungannnya dewasa dengan kartun, kamu mengigau ya?

Jumat, 07 Juni 2013

Curus #9 : Ceritanya surat buat Tuhan tapi dikirim via internet

kepada Penguasa Alam Semesta,

Semoga saya tidak menjadi ibu dari anak-anak yang hidup dengan dendam karena kekerasan masa lalunya,


semoga saya tidak menjadi ibu dari anak-anak yang tertekan oleh paksaan mimpi mimpi orang tuanya,


semoga saya tidak menjadi ibu dari anak-anak yang didustai perasaan yang sering kita sebut sebagai cinta,


semoga saya tidak menjadi ibu dari anak-anak yang lepas dari doktrin "hidupmu tanggung jawabmu,jangan berikan pada orang lain!",


semoga saya tidak menjadi ibu dari anak-anak yang kesepian karena dalih cari harta banyak supaya bisa makan enak,


semoga saya tidak menjadi ibu dari anak-anak yang kecewa karena orang tuanya tidak tahu mana hal yang membunuhnya dan menghidupinya,


semoga saya tidak menjadi ibu dari anak-anak yang tidak mengenal tubuh, ruh, dan yang menciptakannya,


semoga saya tidak menjadi ibu dari anak-anak yang tidak mau melihat, mendengar, bicara, dan belajar,


semoga saya tidak menjadi ibu dari anak-anak yang lupa cara memanusiakan manusia,

dengan segala kebesaran dan kemurahan-Mu semoga banyakkan ibu-ibu dari calon generasi yang kuat dan penuh berkah.
Amin.

Salam olahraga!

Rabu, 13 Februari 2013

Curus #8 : LEBAM

Kesalahanku adalah pesan pesan penting ini tidak pernah kami suarakan dengan baik...

Mulut-mulut kami selalu tersumbat abu, abu sumpah untuk terus bersitegang dengan satu sama lain, terutama mulutku. Ego-ego kami jarang kendur, terutama egoku. Aku kerap manis dan bersahabat di lima menit pertama diskusi dengannya, selebihnya perang, gontok-gontokan, dan pecah!


Kesalahanku adalah selalu lupa bagaimana menerapkan ilmu negosiasi dan rekonsiliasi padanya...


Maaf-maafku selalu menguap tak berbekas dan hati-hati kami hancur bersamaan. Aku dan dia mungkin sama-sama kehabisan akal dan sabar. Aku dan dia mungkin sama-sama pasrah. Ingatanku tak pernah memberitahuku di mana jalan keluar.


Kesalahanku adalah membiarkan air-air ini terhenti di kantong mata, menahannya seolah semua baik-baik saja...


Lelah-lelah kami menampilkan potret hidup kami yang sepertinya bahagia. Tapi, luka-luka kami membekas entah kapan hilang.


Rabu, 19 Desember 2012

Curus #7: hadiah apa Tuhan?

hadiah apa Tuhan yang hari ini akan kau berikan pada hamba?

Sepertinya bukan lagi secarik kertas bernama uang. Bukan juga baju, telepon genggam, mobil, atau rumah lima milyar. Baiklah biarkan saya berspekulasi, sepertinya masih sama seperti yang dulu, seperti beberapa tahun terakhir saat aku menyadari kemanusiaanku.

Terimakasih Tuhan kalau Kau dan semesta-Mu mengirimkan hadiah itu tepat saat angka 0 mengalami kembar empat. Sabar.

Terimakasih untuk Sabar yang kau kirim entah lewat apa. Hal yang memabantuku melawan mati rasa yang sedikit demi sedikit menggeorogoti hati dan semangatku. Saya sedikit terselamatkan.

:')

Senin, 29 Oktober 2012

CURUS (Curhat Nggerus) #6 : Muak!

kalian boleh katakan ini proses pengukuhan posisi, agar eksistensi yang serupa dengan manusia-manusia di paragraf singkat ini tidak luntur dan hilang digerus presepsi komunal. Bebas!

Proses yang berawal dari  puluhan lawakan yang dalam hitungan tahun membuatnya semakin tidak sedap didengarkan. Karena lawakan soal lemak berlebih dan proses tumbuh yang "tidak ke atas" -kata iklan produk susu-, atau karena alat-alat komunikasi yang tidak layar sentuh dan ber-messanger, tidak ber-barcode dan tanpa akses kamera unyu~, atau malah karena tidak berseragamkan dengan balutan kain ala trend tahun ke tahun yang terus berubah ketetapan kurikulumnya, telah berubah sedikit demi sedikit menjadi monster mengerikan bernama dogma ajaran baru, modernitas. Tentu saya tau saya tidak pantas untuk melakukan klaim atas "saya yang paling berbeda", tapi bukankah kita memang individu-individu yang berbeda? Tidak ada satupun individu yang lahir di dunia ini dilahirkan sama persis, karena semesta mampu menciptakan probabilitas tinggi dan memiliki miliyaran komposisi atas tangan, tubuh, dan kaki. Jadi apa hakmu melakukan klaim bahwa aku tidak cantik?


Persetan dengan istilah cantik, istilah gaul, istilah keren, atau apalah itu. Saya toh tidak lagi tertarik dengan sematan label-label macam itu, yang keputusannya ditentukan oleh pengendali otoritas. Orang-orang yang merasa punya hak untuk menjadi pengambil keputusan karena jumawa atas kepemilikan otoritasnya, hey ini bukan soal kuantitas.


Persetan dengan tawaran-tawaranmu soal gincu dan bedak yang membuatku lebih layak untuk dijual, persetan dengan aturan-aturan bahwa feminitas adalah harga mati untuk perempuan, persetan dengan ajakanmu untuk berlayar genggamkan alat yang bahkan punya kesempatan untuk membodohiku, persetan dengan paksaanmu untuk mengikutimu, menjadikanku kamu, dan proses penyeragamanmu dengan anak-anak didikmu. Aku dan kamu dan mereka semua berbeda. Bisakah kamu menghargai itu?


lakum dinukum waliyadin! halah!

Kamis, 04 Oktober 2012

CURUS (Curhat Nggerus) #5 : Yang Tak Bergerak Itu Tak Khianat

yang tak bergerak dan  bernafas itu tak khianat

Seperti kata teman saya yang dulu hobinya tengah malem duduk sendiri di lapangan deket rumah sambil nenggak lawaran, "mending sendiri ditemenin botol, dia nggak mintak kompromi". Apapun yang bergerak, bernafas, dan hidup itu bisa jadi bangsat soalnya, tak terkecuali saya juga. Jadi ada benarnya, mengeluh pada dinding yang katanya punya telinga itu.

Mungkin sekilas kelihatannya naas karena hilang kepercayaannya pada manusia-manusia lain. Tapi gimana ya, yang tak bergerak, tidak bernafas, bahkan tidak berpikir tidak akan berperasaan, berasumsi, atau berprasangka. Mereka tidak meminta timbal balik, atau memutarbalik, atau berdiplomasi, atau apalah itu yang bikin repot. Cocok untuk yang telinganya sensitif, yang kecil hati, atau yang ingin belajar berkomunikasi dengan diri sendiri.


Kalau saya ya, daripada berhadapan dengan televisi lebih baik berhadapan dengan dinding yang jelas di mana-mana ada.

salam olahraga!

Rabu, 26 September 2012

Curus #4 : Kalau Setiap Petani Dipaksa Jadi Pegawai

Biasanya orang yang Kuliah Kerja Nyata ke apa yang banyak orang sebut sebagai pedesaan suka sekali memotivasi penduduk lokal untuk maju. Ya, biar bisa makan enak, bisa sekolah di mana aja, bisa jadi orang kaya, mau ke mana aja bisa, ya pokoknya biar kehidupannya bisa lebih baik gitu, ceritanya. Mulia sekali sih sebenernya, tendensinya mungkin sederhana, supaya kita sama-sama tumbuh jadi masyarakat yang bisa diajak berpikir luas. Bahasanya agak gaya sedikit, tapi bagus kan? Menurut saya itu bagus sih, setidaknya beberapa remaja tidak lagi hanya sibuk berkutat di antara cara bersolek dan makan mewah.
 

Tapi kemudian saat tiba-tiba ada ketidaksengajaan yang membuat kita akhirnya harus mundur lagi ke belakang dan berpikir ulang, maksudnya "maju" yang bagaimana nih? Jadi orang-orang ini hendak dimasukkan pada presepsi "maju" yang seperti apa? Apa kita lantas menyamakan konsep mereka tentang "hidup lebih baik" ala kita yang sudah terbiasa dengan duapuluh delapan jam bersenggama dengan layar toshiba? atau asus? atau sony? Jadi apakah kita harus mendogmakan ajaran tentang hidup lebih baik di era globalisasi yang sudah maju ini pada mereka yang kita anggap "tertinggal"? Lalu yang mana dulu yang harus kita jejalkan di otak-otak itu? Pendidikan formal? Fasilitas layar-layar genggam yang efisien? Sekelompok keyakinan bernama agama? Atau sepotong gaya hidup bernama style? Karena toh kenyataannya mereka hidup baik-baik saja dalam damai, at least, ya mereka hidup dalam kecukupan gitu.



Selasa, 09 Agustus 2011

CURUS (Curhat Nggerus) #3

lamanya waktu terbuang dan akhirnya saya memutuskan untuk menulis lagi.

terkadang ada hal yang tak bisa kita ungkapkan dengan jalinan cerita panjang pada sahabat terdekat
terkadang ada juga yang selalu terhenti di ujung lidah apa yang ingin kita selesaikan dengan kekasih tercinta
lalu kadang ada beban yang lalu hilang tiba-tiba dengan sengaja saat ingin kita bagi dengan keluarga 

Selasa, 21 Juni 2011

CURUS (Curhat Nggerus) #2

-there's someday i dreamed about my parent's death. shockingly i woke up and realize if that's just a dream. but still i cried-

Senin, 23 Mei 2011

CURUS (Curhat Nggerus) #1

Wuih, sudah cukup lama, mengingat sudah sebulan lamanya saya tak lagi mengisi ruang hampa ini.

Oke, sebut saja saya sedang melacur (*melakukan curahan hati) di sini. Masih saja layar kaca digital ini tak meminta kompromi karena sering saya keluh kesahi dan semoga ia tak pernah berdiplomasi untuk meminta imbalan atas itu. Kalau iya pasti sangat mengerikan, berbicara dengan layar komputer, uhuy.

Akhir-akhir ini sungguh situasi yang dilematis, karena beberapa hal yang dengan begitu sulitnya saya terima. Ternyata saya masih belum dapat berdamai dengan keadaan. Entah karena saya yang terlalu keras kepala atau memang situasi yang benar-benar so hell -udah "benar-benar" tambahi "so" lagi, kebangetan-.