Wahai bisik, biarkan saja waktu yang bergulir. Saling bergilir, mendangkalkan palung yang dasarnya tak mampu kita hitung.
Iya aku tahu, desir. Aku terlalu kerap memandang dalam gelap. Kita terlampau tak sadar memenjarakan diri dalam jeruji berwujud sangkar.
Ah sudahlah, siut. Biarkan saja kami berlari terkesan tanpa henti. Lelah pasti datang dan yang tak berujung pun akan menemukan muaranya sendiri.
(Dialog pagi antara jiwa dengan semestanya. Ditulis setelah bertahun menelantarkan halaman berbagi ini)
Salam Olahraga,
11 November 2014
Label
- Biography (2)
- Curhat Nggerus (10)
- Icip Icip (1)
- Intermeso (15)
- Photog[art] (6)
- Poetry (4)
- music (6)
- vacation (3)
Senin, 10 November 2014
Senin, 15 Juli 2013
Vakansi #1 : Yogyakarta Handmade Zine Fair, Rawk!
Minggu, 14 Juli lalu saya pikir mampir sebentar ke area jalan Taman Siswa bisa jadi sore yang menarik. Sembari menunggu tenggat puasa menuju buka, saya dan dua rekan akhirnya sampai di Kedai Belakang untuk acara Jogja Handmade Zine Fair. Acaranya berlangsung dua hari, di mulai dari Sabtu dan berakhir di Minggu.
Saat menginjakkan kaki di kamar yang tak begitu luas antara 3x6 meter atau mungkin sedikit lebih luas dari itu, langsung dapat terlihat tatanan hitam putih berbagai zine dengan proyeksi video dan audio yang menggema di seantero ruang pameran. Di bagian timur telah disemati hiasan sederhana dengan lakban putih bertulis nama acara dan berbagai zine lipat yang dijepit gantung layaknya foto yang sedang dijemur. Saya sebagai pengunjung diberi ruang untuk membaca berbagai zine D.I.Y dengan berbagai konten dan asal. Hemat saya sih, ini acara yang sederhana dengan tatanan sederhana tapi cukup membuat sore di edisi bulan Ramadhan saya jadi tidak membosankan. Yep!
Sebenarnya ada juga workshop membuat zine-mu sendiri sore itu, tapi sayang saya harus angkat kaki karena wajib militer di rumah sendiri. Tak apa, ini acara yang menarik dan memberi banyak inspirasi. Di halaman kedai juga bertata beberapa penjaja merchandise dan zine dari berbagai komunitas. Saya pikir sudah seharusnya pemuda seperti ini kreatif dan menyenangkan. Berpikir soal bagaimana menjadi sarjana yang baik dan calon buruh yang teladan itu kadang jadi proyek penting, tapi jadi individu yang menyenangkan rasanya bisa jadi opsi yang lebih menggiurkan. Yahoooo~
No pix = hoax katanya, jadi sisanya biar foto yang bercerita.
Saat menginjakkan kaki di kamar yang tak begitu luas antara 3x6 meter atau mungkin sedikit lebih luas dari itu, langsung dapat terlihat tatanan hitam putih berbagai zine dengan proyeksi video dan audio yang menggema di seantero ruang pameran. Di bagian timur telah disemati hiasan sederhana dengan lakban putih bertulis nama acara dan berbagai zine lipat yang dijepit gantung layaknya foto yang sedang dijemur. Saya sebagai pengunjung diberi ruang untuk membaca berbagai zine D.I.Y dengan berbagai konten dan asal. Hemat saya sih, ini acara yang sederhana dengan tatanan sederhana tapi cukup membuat sore di edisi bulan Ramadhan saya jadi tidak membosankan. Yep!
Sebenarnya ada juga workshop membuat zine-mu sendiri sore itu, tapi sayang saya harus angkat kaki karena wajib militer di rumah sendiri. Tak apa, ini acara yang menarik dan memberi banyak inspirasi. Di halaman kedai juga bertata beberapa penjaja merchandise dan zine dari berbagai komunitas. Saya pikir sudah seharusnya pemuda seperti ini kreatif dan menyenangkan. Berpikir soal bagaimana menjadi sarjana yang baik dan calon buruh yang teladan itu kadang jadi proyek penting, tapi jadi individu yang menyenangkan rasanya bisa jadi opsi yang lebih menggiurkan. Yahoooo~
No pix = hoax katanya, jadi sisanya biar foto yang bercerita.
ini nih temen ane, namanya Aura, cantik ye dari belakang :)
Sabtu, 15 Juni 2013
Curus #10 : Udah! Pokoknya Saya Pengen Jadi Bocah Sampai Besok-Besok!
dari mana ya? sebentar, saya tidak pintar melakukannya dengan sistematis...
oya, akhir-akhir ini saya jadi sering ingat soal "kata orang" yang sifatnya "katanya-katanya",
Segelintir orang percaya pada jargon "menua itu pasti, dewasa itu pilihan", atau "i don't wanna grow up". Bisa jadi, itu sebagai penolakan pada problem yang kerap ditemui kaum yang sering kita labeli sebagai "dewasa". Padahal kita sendiri belum selesai dengan perintah "dewasalah" yang deskripsinya masih abstrak, tidak jelas. Kadang orang akan mencibir "udah besar kok masih liat kartun, dewasalah!" Kalau egois saya sih, apa hubungannnya dewasa dengan kartun, kamu mengigau ya?
---------------------
oya, akhir-akhir ini saya jadi sering ingat soal "kata orang" yang sifatnya "katanya-katanya",
Segelintir orang percaya pada jargon "menua itu pasti, dewasa itu pilihan", atau "i don't wanna grow up". Bisa jadi, itu sebagai penolakan pada problem yang kerap ditemui kaum yang sering kita labeli sebagai "dewasa". Padahal kita sendiri belum selesai dengan perintah "dewasalah" yang deskripsinya masih abstrak, tidak jelas. Kadang orang akan mencibir "udah besar kok masih liat kartun, dewasalah!" Kalau egois saya sih, apa hubungannnya dewasa dengan kartun, kamu mengigau ya?
Jumat, 07 Juni 2013
Curus #9 : Ceritanya surat buat Tuhan tapi dikirim via internet
kepada Penguasa Alam Semesta,
Semoga saya tidak menjadi ibu dari anak-anak yang hidup dengan dendam karena kekerasan masa lalunya,
semoga saya tidak menjadi ibu dari anak-anak yang tertekan oleh paksaan mimpi mimpi orang tuanya,
semoga saya tidak menjadi ibu dari anak-anak yang didustai perasaan yang sering kita sebut sebagai cinta,
semoga saya tidak menjadi ibu dari anak-anak yang lepas dari doktrin "hidupmu tanggung jawabmu,jangan berikan pada orang lain!",
semoga saya tidak menjadi ibu dari anak-anak yang kesepian karena dalih cari harta banyak supaya bisa makan enak,
semoga saya tidak menjadi ibu dari anak-anak yang kecewa karena orang tuanya tidak tahu mana hal yang membunuhnya dan menghidupinya,
semoga saya tidak menjadi ibu dari anak-anak yang tidak mengenal tubuh, ruh, dan yang menciptakannya,
semoga saya tidak menjadi ibu dari anak-anak yang tidak mau melihat, mendengar, bicara, dan belajar,
semoga saya tidak menjadi ibu dari anak-anak yang lupa cara memanusiakan manusia,
dengan segala kebesaran dan kemurahan-Mu semoga banyakkan ibu-ibu dari calon generasi yang kuat dan penuh berkah.
Amin.
Salam olahraga!
Semoga saya tidak menjadi ibu dari anak-anak yang hidup dengan dendam karena kekerasan masa lalunya,
semoga saya tidak menjadi ibu dari anak-anak yang tertekan oleh paksaan mimpi mimpi orang tuanya,
semoga saya tidak menjadi ibu dari anak-anak yang didustai perasaan yang sering kita sebut sebagai cinta,
semoga saya tidak menjadi ibu dari anak-anak yang lepas dari doktrin "hidupmu tanggung jawabmu,jangan berikan pada orang lain!",
semoga saya tidak menjadi ibu dari anak-anak yang kesepian karena dalih cari harta banyak supaya bisa makan enak,
semoga saya tidak menjadi ibu dari anak-anak yang kecewa karena orang tuanya tidak tahu mana hal yang membunuhnya dan menghidupinya,
semoga saya tidak menjadi ibu dari anak-anak yang tidak mengenal tubuh, ruh, dan yang menciptakannya,
semoga saya tidak menjadi ibu dari anak-anak yang tidak mau melihat, mendengar, bicara, dan belajar,
semoga saya tidak menjadi ibu dari anak-anak yang lupa cara memanusiakan manusia,
dengan segala kebesaran dan kemurahan-Mu semoga banyakkan ibu-ibu dari calon generasi yang kuat dan penuh berkah.
Amin.
Salam olahraga!
Kamis, 04 April 2013
Intermeso #8 : akhirnya liat Melancholic b1tch lagi
- semua tempat berpagar bisa berubah jadi negara, lamun terbaik adalah lamun yang kedap tentara..
ya sejujurnya saya adalah perempuan duapuluh satu tahun yang tertarik dengan grup band asal Jogjakarta bernama Melancholic Bitch. Sebagai seorang remaja tanggung ya saya terlalu berkeinginan untuk menulis rasa suka saya yang egois ini. Dibilang mengidolakan sih mungkin ya mungkin biasa saja, tapi ya yang jelas saya selalu berusaha melihat performa mereka yang cukup jarang di jogja dan ya menerikkan lagu-lagu yang mereka mainkan dengan sangat bersemangat. Kalau sudah begitu saya harusnya sudah sah jadi remaja groupis masa kini.
Jangan tanyakan musiknya, karena untuk telinga mereka yang cocok mereka sangat menyenangkan. Percuma juga saya bicara soal musik toh saya bukan Ahmad Dhani atau juri kompetisi musik yang sudah katam diskografi musik seantero dunia. Jadi anda yang kebeteluan tersesat di tulisan saya ini monggo bisa cek musik mereka di sini.
Rabu, 13 Februari 2013
Curus #8 : LEBAM
Kesalahanku adalah pesan pesan penting ini tidak pernah kami suarakan dengan baik...
Mulut-mulut kami selalu tersumbat abu, abu sumpah untuk terus bersitegang dengan satu sama lain, terutama mulutku. Ego-ego kami jarang kendur, terutama egoku. Aku kerap manis dan bersahabat di lima menit pertama diskusi dengannya, selebihnya perang, gontok-gontokan, dan pecah!
Kesalahanku adalah selalu lupa bagaimana menerapkan ilmu negosiasi dan rekonsiliasi padanya...
Maaf-maafku selalu menguap tak berbekas dan hati-hati kami hancur bersamaan. Aku dan dia mungkin sama-sama kehabisan akal dan sabar. Aku dan dia mungkin sama-sama pasrah. Ingatanku tak pernah memberitahuku di mana jalan keluar.
Kesalahanku adalah membiarkan air-air ini terhenti di kantong mata, menahannya seolah semua baik-baik saja...
Lelah-lelah kami menampilkan potret hidup kami yang sepertinya bahagia. Tapi, luka-luka kami membekas entah kapan hilang.
Mulut-mulut kami selalu tersumbat abu, abu sumpah untuk terus bersitegang dengan satu sama lain, terutama mulutku. Ego-ego kami jarang kendur, terutama egoku. Aku kerap manis dan bersahabat di lima menit pertama diskusi dengannya, selebihnya perang, gontok-gontokan, dan pecah!
Kesalahanku adalah selalu lupa bagaimana menerapkan ilmu negosiasi dan rekonsiliasi padanya...
Maaf-maafku selalu menguap tak berbekas dan hati-hati kami hancur bersamaan. Aku dan dia mungkin sama-sama kehabisan akal dan sabar. Aku dan dia mungkin sama-sama pasrah. Ingatanku tak pernah memberitahuku di mana jalan keluar.
Kesalahanku adalah membiarkan air-air ini terhenti di kantong mata, menahannya seolah semua baik-baik saja...
Lelah-lelah kami menampilkan potret hidup kami yang sepertinya bahagia. Tapi, luka-luka kami membekas entah kapan hilang.
Rabu, 19 Desember 2012
Curus #7: hadiah apa Tuhan?
hadiah apa Tuhan yang hari ini akan kau berikan pada hamba?
Sepertinya bukan lagi secarik kertas bernama uang. Bukan juga baju, telepon genggam, mobil, atau rumah lima milyar. Baiklah biarkan saya berspekulasi, sepertinya masih sama seperti yang dulu, seperti beberapa tahun terakhir saat aku menyadari kemanusiaanku.
Terimakasih Tuhan kalau Kau dan semesta-Mu mengirimkan hadiah itu tepat saat angka 0 mengalami kembar empat. Sabar.
Terimakasih untuk Sabar yang kau kirim entah lewat apa. Hal yang memabantuku melawan mati rasa yang sedikit demi sedikit menggeorogoti hati dan semangatku. Saya sedikit terselamatkan.
:')
Sepertinya bukan lagi secarik kertas bernama uang. Bukan juga baju, telepon genggam, mobil, atau rumah lima milyar. Baiklah biarkan saya berspekulasi, sepertinya masih sama seperti yang dulu, seperti beberapa tahun terakhir saat aku menyadari kemanusiaanku.
Terimakasih Tuhan kalau Kau dan semesta-Mu mengirimkan hadiah itu tepat saat angka 0 mengalami kembar empat. Sabar.
Terimakasih untuk Sabar yang kau kirim entah lewat apa. Hal yang memabantuku melawan mati rasa yang sedikit demi sedikit menggeorogoti hati dan semangatku. Saya sedikit terselamatkan.
:')
Rabu, 07 November 2012
Intermeso #7 : SAYA PUNYA PONAKAN! :D
Jadi ceritanya beberapa hari yang lalu ane mampir gitu ke tempet sodara. Niatnya nggak pengen lama-lama, cuma ambil undangan acara doang njuk bali. Males bro!
Eh tapi makjegagik ternyata ponakan ane ada di TKP, dan ternyata oh ternyata doi udah gede gitu. Padahal seingetku terakir liat doi masih ndak bisa ngapa-ngapain di keranjang sampah, eh maksudnya kerangjang bayi -njuk aku ngilang pirang taun? o_o-
Saking kikuknya ane nggak tau mau kenalan pake panggilan siapa. Kalok mbak kok ya bukan, mosok yo tante -____-! Tapi paling wow pasti dia ngeluarin semua mainannya! Wow banget lah sumpah, di jamanku nggak ada soalnya. Orangnya lucu banget, baru umur empat taun tapi cerewet. Anak sekarang pinter-pinter pada dikasih makan apaan sih? Internet? ooooooo pantes!
Eh tapi makjegagik ternyata ponakan ane ada di TKP, dan ternyata oh ternyata doi udah gede gitu. Padahal seingetku terakir liat doi masih ndak bisa ngapa-ngapain di keranjang sampah, eh maksudnya kerangjang bayi -njuk aku ngilang pirang taun? o_o-
Saking kikuknya ane nggak tau mau kenalan pake panggilan siapa. Kalok mbak kok ya bukan, mosok yo tante -____-! Tapi paling wow pasti dia ngeluarin semua mainannya! Wow banget lah sumpah, di jamanku nggak ada soalnya. Orangnya lucu banget, baru umur empat taun tapi cerewet. Anak sekarang pinter-pinter pada dikasih makan apaan sih? Internet? ooooooo pantes!
Selasa, 06 November 2012
Intermeso #6 : Saya rindu
Saya rindu setiap ijin ijin yang kami buat untuk belajar
saya rindu setiap tunduk tunduk takut mereka mencoba
saya rindu setiap jeda saat kami tak paham dengan gurauan yang berbeda
saya rindu setiap jarak yang kami tempuh untuk balai desa
saya rindu setiap adu adu argumen soal siapa yang harus mencuci sisa makan bersama
saya rindu setiap lirik lagu "if i die tommorow" ala spirit carison
saya rindu setiap parapan parapan bangsat model anak gendruo, adul, dan, bopak yang keluar dari mulut mulut suci kita
saya rindu setiap jalan jalan setapak dan jembatan kematian part 1 & 2 untuk menyambung hidup dan belajar
saya rindu setiap lelah lelah kami saat berladang, bermain pura-pura jadi tukang bikin plang, dan tukang angkut-angkut barang
saya rindu setiap donat-donat yang membatalkan ibadah puasa di jual di depan mess
saya rindu setiap tunduk tunduk takut mereka mencoba
saya rindu setiap jeda saat kami tak paham dengan gurauan yang berbeda
saya rindu setiap jarak yang kami tempuh untuk balai desa
saya rindu setiap adu adu argumen soal siapa yang harus mencuci sisa makan bersama
saya rindu setiap lirik lagu "if i die tommorow" ala spirit carison
saya rindu setiap parapan parapan bangsat model anak gendruo, adul, dan, bopak yang keluar dari mulut mulut suci kita
saya rindu setiap jalan jalan setapak dan jembatan kematian part 1 & 2 untuk menyambung hidup dan belajar
saya rindu setiap lelah lelah kami saat berladang, bermain pura-pura jadi tukang bikin plang, dan tukang angkut-angkut barang
saya rindu setiap donat-donat yang membatalkan ibadah puasa di jual di depan mess
Senin, 29 Oktober 2012
CURUS (Curhat Nggerus) #6 : Muak!
kalian boleh katakan ini proses pengukuhan posisi, agar eksistensi yang serupa dengan manusia-manusia di paragraf singkat ini tidak luntur dan hilang digerus presepsi komunal. Bebas!
Proses yang berawal dari puluhan lawakan yang dalam hitungan tahun membuatnya semakin tidak sedap didengarkan. Karena lawakan soal lemak berlebih dan proses tumbuh yang "tidak ke atas" -kata iklan produk susu-, atau karena alat-alat komunikasi yang tidak layar sentuh dan ber-messanger, tidak ber-barcode dan tanpa akses kamera unyu~, atau malah karena tidak berseragamkan dengan balutan kain ala trend tahun ke tahun yang terus berubah ketetapan kurikulumnya, telah berubah sedikit demi sedikit menjadi monster mengerikan bernama dogma ajaran baru, modernitas. Tentu saya tau saya tidak pantas untuk melakukan klaim atas "saya yang paling berbeda", tapi bukankah kita memang individu-individu yang berbeda? Tidak ada satupun individu yang lahir di dunia ini dilahirkan sama persis, karena semesta mampu menciptakan probabilitas tinggi dan memiliki miliyaran komposisi atas tangan, tubuh, dan kaki. Jadi apa hakmu melakukan klaim bahwa aku tidak cantik?
Persetan dengan istilah cantik, istilah gaul, istilah keren, atau apalah itu. Saya toh tidak lagi tertarik dengan sematan label-label macam itu, yang keputusannya ditentukan oleh pengendali otoritas. Orang-orang yang merasa punya hak untuk menjadi pengambil keputusan karena jumawa atas kepemilikan otoritasnya, hey ini bukan soal kuantitas.
Persetan dengan tawaran-tawaranmu soal gincu dan bedak yang membuatku lebih layak untuk dijual, persetan dengan aturan-aturan bahwa feminitas adalah harga mati untuk perempuan, persetan dengan ajakanmu untuk berlayar genggamkan alat yang bahkan punya kesempatan untuk membodohiku, persetan dengan paksaanmu untuk mengikutimu, menjadikanku kamu, dan proses penyeragamanmu dengan anak-anak didikmu. Aku dan kamu dan mereka semua berbeda. Bisakah kamu menghargai itu?
lakum dinukum waliyadin! halah!
Proses yang berawal dari puluhan lawakan yang dalam hitungan tahun membuatnya semakin tidak sedap didengarkan. Karena lawakan soal lemak berlebih dan proses tumbuh yang "tidak ke atas" -kata iklan produk susu-, atau karena alat-alat komunikasi yang tidak layar sentuh dan ber-messanger, tidak ber-barcode dan tanpa akses kamera unyu~, atau malah karena tidak berseragamkan dengan balutan kain ala trend tahun ke tahun yang terus berubah ketetapan kurikulumnya, telah berubah sedikit demi sedikit menjadi monster mengerikan bernama dogma ajaran baru, modernitas. Tentu saya tau saya tidak pantas untuk melakukan klaim atas "saya yang paling berbeda", tapi bukankah kita memang individu-individu yang berbeda? Tidak ada satupun individu yang lahir di dunia ini dilahirkan sama persis, karena semesta mampu menciptakan probabilitas tinggi dan memiliki miliyaran komposisi atas tangan, tubuh, dan kaki. Jadi apa hakmu melakukan klaim bahwa aku tidak cantik?
Persetan dengan istilah cantik, istilah gaul, istilah keren, atau apalah itu. Saya toh tidak lagi tertarik dengan sematan label-label macam itu, yang keputusannya ditentukan oleh pengendali otoritas. Orang-orang yang merasa punya hak untuk menjadi pengambil keputusan karena jumawa atas kepemilikan otoritasnya, hey ini bukan soal kuantitas.
Persetan dengan tawaran-tawaranmu soal gincu dan bedak yang membuatku lebih layak untuk dijual, persetan dengan aturan-aturan bahwa feminitas adalah harga mati untuk perempuan, persetan dengan ajakanmu untuk berlayar genggamkan alat yang bahkan punya kesempatan untuk membodohiku, persetan dengan paksaanmu untuk mengikutimu, menjadikanku kamu, dan proses penyeragamanmu dengan anak-anak didikmu. Aku dan kamu dan mereka semua berbeda. Bisakah kamu menghargai itu?
lakum dinukum waliyadin! halah!
Kamis, 04 Oktober 2012
CURUS (Curhat Nggerus) #5 : Yang Tak Bergerak Itu Tak Khianat
yang tak bergerak dan bernafas itu tak khianat
Seperti kata teman saya yang dulu hobinya tengah malem duduk sendiri di lapangan deket rumah sambil nenggak lawaran, "mending sendiri ditemenin botol, dia nggak mintak kompromi". Apapun yang bergerak, bernafas, dan hidup itu bisa jadi bangsat soalnya, tak terkecuali saya juga. Jadi ada benarnya, mengeluh pada dinding yang katanya punya telinga itu.
Mungkin sekilas kelihatannya naas karena hilang kepercayaannya pada manusia-manusia lain. Tapi gimana ya, yang tak bergerak, tidak bernafas, bahkan tidak berpikir tidak akan berperasaan, berasumsi, atau berprasangka. Mereka tidak meminta timbal balik, atau memutarbalik, atau berdiplomasi, atau apalah itu yang bikin repot. Cocok untuk yang telinganya sensitif, yang kecil hati, atau yang ingin belajar berkomunikasi dengan diri sendiri.
Kalau saya ya, daripada berhadapan dengan televisi lebih baik berhadapan dengan dinding yang jelas di mana-mana ada.
salam olahraga!
Seperti kata teman saya yang dulu hobinya tengah malem duduk sendiri di lapangan deket rumah sambil nenggak lawaran, "mending sendiri ditemenin botol, dia nggak mintak kompromi". Apapun yang bergerak, bernafas, dan hidup itu bisa jadi bangsat soalnya, tak terkecuali saya juga. Jadi ada benarnya, mengeluh pada dinding yang katanya punya telinga itu.
Mungkin sekilas kelihatannya naas karena hilang kepercayaannya pada manusia-manusia lain. Tapi gimana ya, yang tak bergerak, tidak bernafas, bahkan tidak berpikir tidak akan berperasaan, berasumsi, atau berprasangka. Mereka tidak meminta timbal balik, atau memutarbalik, atau berdiplomasi, atau apalah itu yang bikin repot. Cocok untuk yang telinganya sensitif, yang kecil hati, atau yang ingin belajar berkomunikasi dengan diri sendiri.
Kalau saya ya, daripada berhadapan dengan televisi lebih baik berhadapan dengan dinding yang jelas di mana-mana ada.
salam olahraga!
Rabu, 26 September 2012
Curus #4 : Kalau Setiap Petani Dipaksa Jadi Pegawai
Biasanya orang yang Kuliah Kerja Nyata ke apa yang banyak orang sebut sebagai pedesaan suka sekali memotivasi penduduk lokal untuk maju. Ya, biar bisa makan enak, bisa sekolah di mana aja, bisa jadi orang kaya, mau ke mana aja bisa, ya pokoknya biar kehidupannya bisa lebih baik gitu, ceritanya. Mulia sekali sih sebenernya, tendensinya mungkin sederhana, supaya kita sama-sama tumbuh jadi masyarakat yang bisa diajak berpikir luas. Bahasanya agak gaya sedikit, tapi bagus kan? Menurut saya itu bagus sih, setidaknya beberapa remaja tidak lagi hanya sibuk berkutat di antara cara bersolek dan makan mewah.
Tapi kemudian saat tiba-tiba ada ketidaksengajaan yang membuat kita akhirnya harus mundur lagi ke belakang dan berpikir ulang, maksudnya "maju" yang bagaimana nih? Jadi orang-orang ini hendak dimasukkan pada presepsi "maju" yang seperti apa? Apa kita lantas menyamakan konsep mereka tentang "hidup lebih baik" ala kita yang sudah terbiasa dengan duapuluh delapan jam bersenggama dengan layar toshiba? atau asus? atau sony? Jadi apakah kita harus mendogmakan ajaran tentang hidup lebih baik di era globalisasi yang sudah maju ini pada mereka yang kita anggap "tertinggal"? Lalu yang mana dulu yang harus kita jejalkan di otak-otak itu? Pendidikan formal? Fasilitas layar-layar genggam yang efisien? Sekelompok keyakinan bernama agama? Atau sepotong gaya hidup bernama style? Karena toh kenyataannya mereka hidup baik-baik saja dalam damai, at least, ya mereka hidup dalam kecukupan gitu.
Tapi kemudian saat tiba-tiba ada ketidaksengajaan yang membuat kita akhirnya harus mundur lagi ke belakang dan berpikir ulang, maksudnya "maju" yang bagaimana nih? Jadi orang-orang ini hendak dimasukkan pada presepsi "maju" yang seperti apa? Apa kita lantas menyamakan konsep mereka tentang "hidup lebih baik" ala kita yang sudah terbiasa dengan duapuluh delapan jam bersenggama dengan layar toshiba? atau asus? atau sony? Jadi apakah kita harus mendogmakan ajaran tentang hidup lebih baik di era globalisasi yang sudah maju ini pada mereka yang kita anggap "tertinggal"? Lalu yang mana dulu yang harus kita jejalkan di otak-otak itu? Pendidikan formal? Fasilitas layar-layar genggam yang efisien? Sekelompok keyakinan bernama agama? Atau sepotong gaya hidup bernama style? Karena toh kenyataannya mereka hidup baik-baik saja dalam damai, at least, ya mereka hidup dalam kecukupan gitu.
Selasa, 18 September 2012
Intermeso #6 : Selamat Datang Imajinasi
Beberapa tahun terakhir saya jadi suka sekali denger lagu yang -saya lebih suka menyebutnya dengan- ngawang awang. Terutama beberapa lagu yang full instrument -tanpa vokal. Pernah nggak sih kalian cuma rebahan aja atau duduk sambil memejamkan mata terus denger beberapa lagu dari playlist dan berimajinasi? Saya hampir setiap hari ngelakuin itu sebelum tidur malam. Beberapa lagu seperti memaksa saya untuk berimajinasi lebih, membayangkan visualiasi yang tepat untuk audio yang seperti ini itu, dan itu menyenangkan.
Mungkin anda ingin mencobanya?
1. Jonsi - Animal Arithmetic
Kamis, 13 September 2012
Intermeso #5 : He jomblo selamat ye!
Ada yang bilang hidup itu kayak roda, berputar terus katanya. Yang di atas bisa turun ke bawah yang di kepala bisa turun ke kaki, kaki ke kepala, lalalalala, halah.
Trend juga, dulu celana panjang warna warni ala 80-an sempet naik lagi taun 2007-an. Kripik kentang super pedes yang biasanya ane beli maratus perak di kelontong juga jadi idola remaja masa kini. Padahal, harganya ya masyuuuuuuk, limabelas ribu udah paling murah cin. Terus, hape merek minuman serbuk juga jadi korban budak jaman, ouch. Saya taunya itu dulu salah satu rasa minuman buah Marimas, blackberry.... Maapin ane yang udig ini. Dan setelah kue pelangi yang unyu mampus sama roti warna merah bata itu jadi tolok ukur seberapa gaul kamu, sekarang status Jomblo kamu jadi incaran banyak anak gaul -prek.
Trend juga, dulu celana panjang warna warni ala 80-an sempet naik lagi taun 2007-an. Kripik kentang super pedes yang biasanya ane beli maratus perak di kelontong juga jadi idola remaja masa kini. Padahal, harganya ya masyuuuuuuk, limabelas ribu udah paling murah cin. Terus, hape merek minuman serbuk juga jadi korban budak jaman, ouch. Saya taunya itu dulu salah satu rasa minuman buah Marimas, blackberry.... Maapin ane yang udig ini. Dan setelah kue pelangi yang unyu mampus sama roti warna merah bata itu jadi tolok ukur seberapa gaul kamu, sekarang status Jomblo kamu jadi incaran banyak anak gaul -prek.
Senin, 10 September 2012
Holiday in Hell!
WHOOPLAAAAAAAA!
blog ini hampir masuk liang kubur karena ulah saya yang digerogoti malas!
payah!
Sedikit berbagi saja soal liburan saya yang berlalu Januari awal tahun ini. Jadi waktu itu entah kesambet apa orang tua saya ngajakin sekeluarga liburan ke Bali. Emang jatah kantor gitu sih ceritanya. Kali pertama saya liburan agak jauh bersama keluarga, minus one tapi, saudara tua sok sibuk sama kegiatannya, ceritanya.
Kamis, 15 Desember 2011
Narakrips: b.o.m
Saat itu sore hari dan aku menyelinap dari pengapnya puri dan kerasnya mereka beradu argumen, ayah dan ibu. Kuputar balik sepeda kesayanganku yang putihnya tak lagi sebersih dulu. Suara gemercak baut-baut di keranjang yang kendur harus mewarnai tiap hempasan kakiku pada pedal. Sedikit mengganggu memang, kadang aku harus menahan malu saat dirinya yang aku suka memboncengkanku. Membawaku ke antah berantah di mana destinasi ditentukan oleh rasa kalut.
Minggu, 02 Oktober 2011
Too Good To Be
melihatnya TANGGUH aku berharap padanya,
melihat lapang pundaknya aku berharap padanya,
melihatnya tinggi aku berharap padanya,
melihat angkuh senyumnya aku berharap padanya,
melihatnya jauh aku berharap padanya,
melihatnya, kuhentikan, kubutakan mataku.
#FIN
Jumat, 19 Agustus 2011
Korea dan geng boy/girl band
satu hal yang buat saya kecewa tentang Korea dan kumpulan boy/girl band nya:
orang di "sini" (di negara saya) senengnya waton ngumpatin mereka (terutama yang pria) "gay" lah "banci" lah, padahal kita yang perempuan juga nggak semena-mena bilang sambil nunjuk "mereka lesbian". Hey, effort mereka besar juga lho. Bikin boy/girlband di sana sama susahnya dengan bikin grupband di sini. Mereka sudah sangat berbekal. Kalian bisa cari tau sendiri kalau mau. Jadi jangan nyinyir cuma karena mereka oprasi plastik lalu tiba-tiba jadi seganteng/secantik manekin. Malesnya lagi di "sini" ada beberapa oknum sok tau yang udah kayak cina waton tiru aja. Dipikir nyanyi (nggak lipsync) sambil ngedance gampang apa.
Jangan cuma diambil ganteng/cantik terus body oke doang kali. Total dong kalau emang terinsipirasi. Soalnya itu juga yang bikin sindiran asal jadi banyak bermunculan.
NB: terlepas dari apa itu nasionalisme atau apalah, ane kagak bermaskut belain negara orang, cuma berkaca pada faktanya.
MAKANYA BELAJAR DULU KALAU NGGAK TAU.
NB: terlepas dari apa itu nasionalisme atau apalah, ane kagak bermaskut belain negara orang, cuma berkaca pada faktanya.
MAKANYA BELAJAR DULU KALAU NGGAK TAU.
Sabtu, 13 Agustus 2011
ANONYMOUS!
Regangkan jari jari dan saya siap untuk menulis lagi.
Beberapa teman saya waktu lalu sempat berceloteh tentang nama blog saya ini. Entah kenapa waktu itu yang terlintas di pikiran saya hanya nama "selongsong". Mungkin karena ia kosong dan sisa dari peluru yang melesat sangat cepat dan mematikan, sama seperti anak muda pikir saya. Lalu dengan embel-embel "egoisme pembombardir kata", sounds cool, lagi-lagi menurut saya. Tapi ternyata kata Tantri -seorang sahabat tidur- nama itu terlalu 4L4Y.
Beberapa teman saya waktu lalu sempat berceloteh tentang nama blog saya ini. Entah kenapa waktu itu yang terlintas di pikiran saya hanya nama "selongsong". Mungkin karena ia kosong dan sisa dari peluru yang melesat sangat cepat dan mematikan, sama seperti anak muda pikir saya. Lalu dengan embel-embel "egoisme pembombardir kata", sounds cool, lagi-lagi menurut saya. Tapi ternyata kata Tantri -seorang sahabat tidur- nama itu terlalu 4L4Y.
Selasa, 09 Agustus 2011
CURUS (Curhat Nggerus) #3
lamanya waktu terbuang dan akhirnya saya memutuskan untuk menulis lagi.
terkadang ada hal yang tak bisa kita ungkapkan dengan jalinan cerita panjang pada sahabat terdekat
terkadang ada juga yang selalu terhenti di ujung lidah apa yang ingin kita selesaikan dengan kekasih tercinta
lalu kadang ada beban yang lalu hilang tiba-tiba dengan sengaja saat ingin kita bagi dengan keluarga
terkadang ada hal yang tak bisa kita ungkapkan dengan jalinan cerita panjang pada sahabat terdekat
terkadang ada juga yang selalu terhenti di ujung lidah apa yang ingin kita selesaikan dengan kekasih tercinta
lalu kadang ada beban yang lalu hilang tiba-tiba dengan sengaja saat ingin kita bagi dengan keluarga
Langganan:
Postingan (Atom)








